
loading…
Foto: Doc. Istimewa
Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini mengambil premis tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan sepatu saudara perempuannya. Mungkin terdengar biasa saja, tetapi penonton bisa belajar jatuh bangun perjuangan mencari makna hidup.
Penonton langsung dibuat terkesan ketika film garapan Hanung Bramantyo ini di buka dengan suasana 1980-an di Semarang, di mana Presiden Soeharto mengumumkan kabinet dan didengarkan masyarakat Indonesia melalui radio dan disisi lain gambarkan situasi pasar disebuah desa.
Penonton pun diperkenalkan dengan Ali, bocah laki-laki dari keluarga sederhana yang hidup bersama ibu yang sakit, ayah pengurus masjid, serta dua adiknya, Zahra yang harus tumbuh dewasa sebelum waktunya dan seorang adik bayi yang masih kecil.
Kisahnya dimulai ketika Ali yang membawa alas kaki adiknya, Zahra ke tukang sepatu untuk diperbaiki. Namun, dalam perjalanan pulang, ketika dia berhenti untuk mengambil sayuran untuk ibunya, seorang pemulung tanpa sengaja membawa sepatu yang dibungkus plastik hitam itu.
Ali panik dan takut untuk memberi tahu orang tuanya. Bukan takut dimarahi, tetapi dia sadar diri, orang tuanya bukan dari keluarga mampu. Sementara, sang adik terus bertanya akan sepatunya itu dan bagaimana dirinya sekolah tanpa alas kaki.