
loading…
Lonjakan biaya hidup memunculkan fenomena baru yang dikenal sebagai friendflation. FOTO/Asia Business Daily
Berdasarkan hasil survei yang dirilis AlbaCheonguk, sebanyak 93% responden mengaku merasa terbebani dengan biaya untuk bertemu atau berkumpul bersama teman akibat kenaikan harga, dan hampir separuh di antaranya mengatakan beban tersebut sering mereka rasakan. Demikian hasil survei platform pencarian kerja tersebut terhadap 601 responden Generasi Z yang dirilis pada 10 Juli 2026, dikutip dari Asia Business Daily, Minggu (19/7).
Baca Juga: Krisis Selat Hormuz, Bos IEA Wanti-wanti Ekonomi Global dalam Bahaya
Survei tersebut menunjukkan tekanan ekonomi mulai mengubah pola pergaulan generasi muda. Sebanyak 71,2% responden mengaku mengurangi pengeluaran untuk aktivitas bersama teman dalam satu tahun terakhir. Dari jumlah itu, 83,9% memilih mengurangi frekuensi pertemuan sebagai cara menghemat pengeluaran.
Biaya makan menjadi pengeluaran yang paling membebani saat berkumpul dengan teman. Sebanyak 78,4% responden menyebut biaya makan sebagai pengeluaran terbesar, disusul biaya kopi dan makanan penutup 40,1%, minuman beralkohol 29,7%, hadiah ulang tahun atau perayaan 25,8%, biaya transportasi 22,4%, serta kegiatan hiburan seperti konser dan pameran 20,6%.
Mayoritas responden mengaku menghabiskan sekitar 30.000 hingga 50.000 won untuk sekali bertemu teman. Namun, sekitar sepertiga responden menyatakan mulai merasa keberatan apabila biaya yang harus dikeluarkan melebihi 50.000 won dalam satu kali pertemuan.
Fenomena friendflation merupakan gabungan dari kata friend (teman) dan inflation (inflasi). Istilah ini menggambarkan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan hubungan sosial di tengah kenaikan harga kebutuhan hidup. Dampaknya, banyak orang mulai lebih selektif menghadiri acara sosial, mulai dari nongkrong di kafe, pesta ulang tahun, reuni, hingga acara kantor.