
loading…
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting. Foto/Dok SindoNews
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas)
PERTEMUAN terbatas yang digelar Presiden Prabowo Subianto di Hambalang pada Sabtu malam 2 Mei 2026, bukan sekadar rapat rutin.
Komposisi peserta yang didominasi aktor keamanan, mulai dari Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal (Purn) Muhammad Herindra, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, para Kepala Staf Angkatan, hingga Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Komposisi itu menunjukkan forum ini lebih menyerupai “ruang komando” ketimbang sekadar rapat koordinasi kabinet biasa.
Namun ada yang janggal, karena tidak ada Kepala Staf Kepresidenen Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman . Seharusnya aktivitas presiden menyertakan KSP sebagai perangkat strategis Kepresidenan. Apalagi sejak Oktober 2024, Dudung masuk dalam kelompok pakar strategi pertahanan dan industri pertahanan sekaligus Penasihat Khusus Bidang Pertahanan Nasional Presiden.
Baca Juga: Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Isu Hankam hingga Pendidikan Dibahas
Hadir pula dalam rapat terbatas itu Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari, Wakil Menteri Komunikasi Digital Angga Raka Prabowo, Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, Dirut Pindad Sigit Puji Santosa, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Di tengah narasi resmi yang menyinggung pendidikan dan hilirisasi, justru menarik untuk membaca lapisan politik di balik agenda tersebut.
Keamanan dan Situasi Global
Pertama, pertemuan ini mencerminkan konsolidasi sektor pertahanan dan keamanan dalam menghadapi dinamika geopolitik yang kian cair.
Baca Juga: K epemimpinan Prabowo Dinilai Mampu Jaga Kedaulatan Negara dan Stabilitas Politik