
loading…
Penelitian terbaru USGS mengungkap potensi mineral di Carolina dan Maine yang mampu memenuhi kebutuhan domestik hingga tiga abad ke depan. Foto: ist
Selama ini, AS sangat bergantung pada impor. Tahun lalu saja, AS mengimpor baterai lithium-ion senilai Rp1,445 triliun (USD85 juta) dari China.
Ketergantungan ini menjadi beban biaya tinggi karena administrasi pemerintah AS memberlakukan tarif besar pada produk tersebut.
Namun, data terbaru menunjukkan potensi besar di pegunungan Appalachia: sekitar 1,43 juta metrik ton terkonsentrasi di wilayah Carolina, dan 900.000 metrik ton lainnya berada di bawah hutan pedesaan Maine serta New Hampshire.
Skala temuan ini sangat masif. Cadangan tersebut mampu memberi daya pada 130 juta kendaraan listrik (EV), 3 miliar tablet/laptop, atau 500 miliar ponsel pintar. Selain untuk otomotif, lithium menjadi jantung infrastruktur AI.
Google, misalnya, telah mengerahkan 100 juta sel lithium-ion di pusat datanya karena baterai ini mengisi daya lebih cepat dan bertahan 2 hingga 3 kali lebih lama dibanding teknologi konvensional.
Direktur USGS, Ned Mamula, menyatakan, “Penelitian ini menunjukkan bahwa Appalachia mengandung cukup lithium untuk membantu memenuhi kebutuhan nasional yang terus tumbuh, sebuah kontribusi besar bagi keamanan mineral AS di saat permintaan global melonjak.”