
loading…
Memasuki awal tahun, arus informasi di ruang digital kembali meningkat signifikan. Foto/istimewa
Isu ini disoroti Ade Fitrie Kirana, aktivis sosial yang dikenal konsisten memperjuangkan isu perempuan dan anak. Menurut Ade, awal tahun seharusnya menjadi momentum refleksi untuk menata ulang ekosistem informasi yang setiap hari dikonsumsi generasi muda.
Ade menilai anak-anak dan remaja saat ini tumbuh dalam pusaran informasi tanpa jeda. Paparan konten yang berulang, terutama yang sarat gosip dan konflik, berpotensi membentuk pola pikir yang keliru tentang kehidupan sosial, relasi dan nilai diri.
“Gosip, konflik personal, dan konten yang memancing emosi mungkin terlihat ringan bagi orang dewasa, tapi bagi anak-anak itu bisa membentuk cara pandang yang keliru tentang kehidupan, relasi, dan nilai diri,” kata Ade.
Lebih jauh, Ade mengatakan bahwa anak-anak dan remaja saat ini tumbuh di tengah banjir informasi yang nyaris tanpa jeda. Namun, tanpa pendampingan yang memadai, mereka berisiko menyerap standar emosi dan perilaku yang tidak sehat, mulai budaya saling menjatuhkan, normalisasi konflik, hingga pencarian validasi berlebihan.
“Konten negatif bukan hanya soal kata-kata kasar atau visual ekstrem. Gosip yang terus diulang, drama personal yang dieksploitasi, juga bisa menanamkan kecemasan, rasa tidak aman, dan kebingungan identitas pada anak,” tutur Ade.
Dijelaskannya, konsumsi gosip yang berlebihan dapat mengganggu fokus anak, memicu perbandingan sosial yang tidak realistis, serta memperlemah empati. Anak-anak bisa tumbuh dengan anggapan bahwa popularitas, konflik, dan sensasi adalah ukuran keberhasilan dan kebahagiaan. Karena itu, dia mengajak orang tua, pendidik, kreator konten, hingga platform digital untuk mengambil peran aktif di awal tahun ini.