
loading…
Ilustrasi pilot dari TNI Angkatan Udara, Kolonel Pnb Ferrel Rigonald, menerbangkan langsung prototipe jet tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae dalam sesi uji terbang yang berlangsung di Lanud Sacheon, Korea Selatan, Jumat (27/6/2025). Foto/Dispenau
Pakar pertahanan dan hubungan internasional Binus University Curie Maharani, Ph.D mengungkapkan hal tersebut saat pembukaan Lomba Menulis yang diselenggarakan IndonesiaStrategic and Defence Studies (ISDS) bertema ‘’Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM’’ di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
‘’Meski Indonesia dan Korsel sama-sama bukan negara inovator teknologi pertahanan, Korsel bernilai strategis bagi Indonesia sebagai penyuplai, pemadu utama, dan kolaborator norma,’’ungkap doktor Cranfield University, Inggris ini.
Curie menjelaskan dalam perspektif kepentingan nasional Indonesia, kerja sama strategis dengan Korsel membawa sejumlah potensi.
Pertama, sebagai sumber akses bagi Indonesia untuk mendapatkan teknologi standar Barat dari tangan kedua. Kedua, Korsel sebagai raksasa baru industri pertahanan dunia dengan konsumen global, membutuhkan rantai suplai berdaya saing yang memungkinkan diisi oleh Indonesia.
Ketiga, kedua negara memiliki konvergensi nilai yang menjunjung penggunaan AI yang bertanggung jawab di sektor pertahanan.
‘’Indonesia perlu menyusun strategi yang tepat untuk memaksimalkan potensi kemitraan dengan Korsel tersebut,’’ papar Curie yang menjadi salah satu juri dalam Lomba Menulis ISDS ini. Jurilainnya dari ISDS dan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto.