
loading…
Militer AS ditantang untuk luncurkan invasi darat ke Iran. Foto/The War Zone
Dia juga mengeklaim bahwa negaranya memiliki banyak persenjataan, termasuk rudal, jauh di bawah tanah untuk menahan serangan udara Washington.
Baca Juga: 1 Lagi Tentara AS Tewas Diserang Drone Iran
Marandi, yang kerap menyatakan dirinya sebagai juru bicara rezim Iran, mengatakan bahwa Teheran telah menghabiskan puluhan tahun untuk mempersiapkan—dan menyambut—invasi darat AS. Komentarnya muncul saat ledakan baru mengguncang wilayah Timur Tengah pada hari kedelapan aksi saling serang AS-Iran.
Akademisi berkewarganegaraan Iran-AS itu mengatakan bahwa Teheran baru saja memperkenalkan rudal baru sambil mendesentralisasi dan mengubur persenjataannya jauh di bawah tanah untuk menahan serangan udara Amerika yang berkelanjutan.
“Amerika sedang merencanakan invasi. Saya tidak mengatakan itu pasti akan terjadi. Saya tidak mengatakan itu pasti akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Tetapi mereka memiliki rencana untuk invasi,” kata Marandi, mantan penasihat tim negosiasi nuklir Iran, dalam sebuah wawancara dengan analis politik Glenn Diesen, sebagaimana dikutip dari Fox News, Senin (20/7/2026).
“Apakah mereka akan melaksanakannya atau tidak, kita akan lihat. Tetapi Iran, seperti yang Anda sebutkan, fokus serangan Iran adalah pada Bahrain dan Kuwait, dan itu karena di sanalah sebagian besar aset Amerika ditempatkan untuk invasi darat,” kata Diesen.
Serangan AS telah meluas di Iran barat dan selatan pada Sabtu pekan lalu. Sebaliknya, Iran juga meluncurkan salvo rudal dan drone yang menargetkan fasilitas yang terkait dengan AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Para pejabat Yordania mengonfirmasi bahwa mereka mencegat 10 rudal pada Sabtu pagi, sementara pihak berwenang di Kuwait melaporkan korban jiwa dan kerusakan parah pada pembangkit listrik dan pabrik desalinasi domestik.
Sebagai tanggapan, serangan udara AS menghantam jembatan, terowongan jalan utama, pos pengawasan, dan fasilitas penyimpanan senjata bawah tanah Iran yang diperkuat.