
loading…
Tentara memasang rudal AGM-114R Hellfire di helikopter tempur. Foto/us army
Keputusan ini memunculkan ironi politik global. Pasalnya, pembelian sistem persenjataan dari Washington dilakukan setelah sebelumnya Presiden Donald Trump sempat melontarkan keinginan agar Amerika Serikat “membeli” Greenland dari Denmark—pernyataan yang kala itu memicu kegaduhan diplomatik antara dua sekutu NATO tersebut.
Melalui Skema Foreign Military Sales
Pembelian tersebut disetujui melalui program Foreign Military Sales (FMS), mekanisme resmi pemerintah AS untuk menjual peralatan militer kepada negara mitra. Dalam kesepakatan itu, Denmark mengajukan permintaan hingga 100 unit misil AGM-114R Hellfire lengkap dengan perangkat pendukung.
Paket pengadaan mencakup peluncur, simulator pelatihan, suku cadang, serta dukungan teknis dari pihak Amerika. Total nilai transaksi diperkirakan mencapai USD45 juta.
AGM-114R Hellfire sendiri dikenal sebagai sistem senjata presisi tinggi yang fleksibel. Misil ini lazim dipasang pada helikopter tempur maupun drone, dengan kemampuan menghantam target darat secara akurat dalam berbagai kondisi medan.
Ironi: Membeli dari Negara yang Ingin Mencaplok
Langkah Kopenhagen membeli senjata dari Washington memunculkan tanda tanya publik. Wacana akuisisi Greenland yang sempat diungkap Trump beberapa waktu lalu masih membekas dalam memori politik Denmark.
Kala itu, Trump secara terbuka menyebut Greenland sebagai wilayah strategis yang “dibutuhkan” AS. Bahkan ia tidak menutup kemungkinan pembelian wilayah otonom tersebut dari Denmark, memicu protes keras dari pemerintah Kopenhagen.
Kini, di tengah dinamika tersebut, Denmark justru memperkuat militernya dengan alutsista buatan AS. Sejumlah analis melihatnya sebagai paradoks kebijakan pertahanan: membeli perlengkapan dari negara yang sempat mengumbar ambisi atas wilayah yang hendak dilindungi.