loading…
Agus Taufiq, Politisi Muda dan inisiator @KebijakanKita. Foto: Ist
Politisi Muda dan inisiator @KebijakanKita
DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buruh didefinisikan singkat sebagai ‘orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah’. Penjabaran definisi yang tampak apa adanya ini, nyatanya menyembunyikan realitas yang jauh lebih getir.
Jika kita menengok ke belakang, Hari Buruh atau May Day yang kita rayakan hari ini bukanlah hadiah dari penguasa yang bermurah hati. Tragedi berdarah di Haymarket, Chicago, pada tahun 1886, membuktikan bahwa peringatan ini berlandaskan pada darah dan air mata kaum pekerja yang kala itu menuntut hak dasar atas delapan jam kerja.
Lebih dari seabad berlalu, muncul pertanyaan: Sejauh mana nasib perjuangan para buruh hari ini benar-benar ditentukan? Apakah perjuangan itu perlahan luntur di tengah realita politik dan ekonomi yang semakin tidak karuan?
Pertanyaan ini menjadi penting. Sebab, ada kecenderungan kita hanya terus-menerus menawarkan solusi parsial terhadap persoalan sistemik yang menjerat buruh dari hulu ke hilir.
Alienasi Terhadap Buruh
Coba lihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Setiap denyut kehidupan kota ini senantiasa bergerak karena keringat para buruh. Ironisnya, mereka sering kali menjadi orang asing di tempat yang sebenarnya mereka bangun sendiri. Nasib mereka justru terlempar jauh ke pinggiran, terjebak dengan upah yang seringkali hanya cukup untuk menyambung hidup hingga esok pagi.