
loading…
Harga minyak dunia melonjak setelah Presiden Donald Trump ancang-ancang blokade Iran berlangsung berbulan-bulan. FOTO/The Telegraph
“Runtuhnya pembicaraan antara AS dan Iran, bersama dengan laporan bahwa Presiden Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, membuat pasar kehilangan harapan atas pemulihan cepat aliran minyak,” ujar Kepala Strategi Komoditas ING Warren Patterson dikutip dari The Telegraph, Jumat (1/5/2026).
Baca Juga: OPEC+ Bergejolak, Akankah Rusia Ikuti Jejak Uni Emirat Arab?
Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 13% dalam 24 jam dan mencapai level tertinggi sejak 2022. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, pasar energi terus bergejolak akibat blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran serta respons Teheran yang memperketat akses pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global. Penutupan hampir total jalur tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi optimisme terhadap kemungkinan tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat.
Meski sempat menyentuh USD126 per barel, harga minyak Brent kemudian terkoreksi ke kisaran USD114 per barel pada perdagangan sore. Namun, pasar tetap dibayangi kekhawatiran karena Gedung Putih disebut siap mempertahankan blokade hingga Iran menghentikan produksi minyaknya.