loading…
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis diesel hingga menyentuh angka Rp23.900 per liter memicu kepanikan di kalangan pemilik mobil diesel mewah kelas menengah, membuat mereka berebut mencari celah menggunakan Biosolar subsidi. Foto: Pertamina
Kenaikannya bikin kaget. Terutama untuk jenis diesel.
Di Jakarta, Dexlite kini dibanderol Rp23.600 per liter. Pertamina Dex lebih gila lagi: Rp23.900 per liter. Ini bukan angka yang ramah untuk dompet, sekalipun bagi mereka yang sanggup membeli mobil sekelas Innova Reborn, Fortuner, atau Pajero Sport.
Di dunia maya, kepanikan itu terekam jelas. Perdebatan sengit terjadi. Topiknya satu: Haruskah turun kasta memakai Biosolar yang harganya masih bersubsidi (Rp6.800 per liter)?
Selisih harganya memang menggiurkan. Sangat besar. Rp17.100 per liter. Kalau dihitung-hitung secara matematis, godaan itu masuk akal.
Atau bahkan, menjadi solusi satu-satunya daripada harus memakai Pertadex dan Dexlite yang terlalu mahal. Daripada harus menjual mobil?
Akun @mushlih_san mencoba membuat kalkulasi. Ia menghitung proyeksi pemakaian hingga 50.000 km.
Asumsinya: Pertamina Dex bisa menempuh 12,5 km per liter, sedangkan Biosolar sedikit lebih boros, 11 km per liter.
Hanya dari sisi BBM saja, pemakai Biosolar hanya keluar uang Rp30,9 juta. Bandingkan dengan Pertamina Dex yang menelan biaya Rp95,6 juta. Ada selisih penghematan Rp64,7 juta!
Tapi tunggu dulu. Mesin diesel modern standar Euro 4 (seperti pada Innova Reborn) itu manja. Hanya menoleransi kandungan sulfur maksimal 50 ppm. Sementara Biosolar (B40)? Kandungan sulfurnya bisa tembus 2.500 ppm. Jauh di atas batas toleransi.