
loading…
Sebuah kilang minyak beroperasi di tengah melemahnya permintaan diperkirakan mengalami penurunan kuartalan tertajam sejak krisis Covid-19. FOTO/AP
Analis energi dari MST Marquee Saul Kavonic mengatakan pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. “Pasar minyak terus bergejolak sebagai respons terhadap pernyataan yang berubah-ubah dari AS dan Iran, bukan semata kondisi pasokan di lapangan,” ujarnya dikutip dari BBC, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: Pakar Militer Sebut Penyitaan Kapal oleh AS Jadi Indikasi Dimulainya Invasi Militer Jilid II ke Iran
Harga minyak acuan Brent tercatat naik lebih dari 4% menjadi sekitar USD94,20 per barel, berbalik dari tren penurunan sehari sebelumnya. Sebelumnya, harga sempat melemah setelah Iran menyatakan Selat Hormuz dibuka penuh untuk pelayaran komersial selama masa gencatan senjata.
Namun, situasi berubah cepat setelah Iran kembali menutup selat tersebut dan memperingatkan kapal yang mendekat berpotensi menjadi sasaran. Jalur ini diketahui mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasar global.
Ketegangan meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, kemudian dibalas Teheran dengan ancaman terhadap jalur pelayaran di kawasan tersebut. Washington juga menegaskan blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan yang lebih luas.