Rupiah Ambruk hingga Rp17.500 per Dolar AS, BI Buka Suara



loading…

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memberikan respons terkait meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.500 per dolar AS. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh kombinasi meningkatnya ketidakpastian global serta adanya lonjakan permintaan Dolar AS di pasar domestik untuk kebutuhan musiman.

Destry menjelaskan eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memicu kekhawatiran di pasar global. Secara domestik, terdapat siklus tahunan yang meningkatkan kebutuhan valuta asing.

“Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Baca Juga: Rupiah Menangis Tembus Rp17.529, Purbaya: Itu Urusan Bank Sentral

Selain faktor eksternal, BI mencatat adanya peningkatan permintaan Dolar AS yang signifikan dari dalam negeri. Hal ini berkaitan dengan periode pembayaran Utang Luar Negeri (ULN), pembagian deviden perusahaan, hingga persiapan dana untuk ibadah haji.

Meski demikian, BI menegaskan bahwa likuiditas valas di pasar domestik masih memadai, yang tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9 persen year-to-date (ytd) pada akhir Maret.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *