
loading…
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. FOTO/dok.SindoNews
Destry menjelaskan eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memicu kekhawatiran di pasar global. Secara domestik, terdapat siklus tahunan yang meningkatkan kebutuhan valuta asing.
“Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Menangis Tembus Rp17.529, Purbaya: Itu Urusan Bank Sentral
Selain faktor eksternal, BI mencatat adanya peningkatan permintaan Dolar AS yang signifikan dari dalam negeri. Hal ini berkaitan dengan periode pembayaran Utang Luar Negeri (ULN), pembagian deviden perusahaan, hingga persiapan dana untuk ibadah haji.
Meski demikian, BI menegaskan bahwa likuiditas valas di pasar domestik masih memadai, yang tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9 persen year-to-date (ytd) pada akhir Maret.