
loading…
Pendekatan ekonomi sirkular didorong sebagai solusi strategis untuk membenahi sistem pengelolaan sampah di Indonesia. FOTO/dok.SindoNews
Founder dan CEO Waste4Change Muhammad Bijaksana Junerosano mengatakan penyelesaian persoalan sampah harus dilihat secara menyeluruh, tidak sekadar sebagai limbah yang dibuang. “Penyelesaian masalah sampah harus dilihat sebagai potensi sumber daya, sehingga pergeseran menuju ekonomi sirkular menjadi penting,” ujarnya seperti dikutip, Rabu (21/4/2026).
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan DPR pada 2026 menunjukkan sekitar 75 persen sampah nasional atau setara 105.483 ton per hari belum tertangani pada 2025. Selain itu, sekitar 60–70 persen sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) tanpa pengolahan lanjutan yang optimal.
Baca Juga: Dari Limbah Tambang ke Inovasi Konstruksi: Tantangan dan Peluang Ekonomi Sirkular
Kondisi tersebut menegaskan adanya tantangan struktural, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan infrastruktur, hingga lemahnya implementasi regulasi. Sejumlah miskonsepsi juga masih terjadi, seperti anggapan bahwa pengelolaan sampah sepenuhnya tanggung jawab pemerintah atau pemilahan cukup dilakukan di TPA.
Sebagai bagian dari solusi, Waste4Change mengembangkan fasilitas Rumah Pemulihan Material (RPM) untuk meningkatkan pemilahan dan pemrosesan sampah secara lebih terstruktur. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat pemulihan material sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA.