
loading…
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, dinilai memposisikan Indonesia dalam kondisi kerentanan energi. Foto/Dok
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengibaratkan kondisi saat ini seperti lampu lalu lintas yang sudah berwarna kuning. “Artinya hati-hati, jangan sampai menyentuh merah,” ujar Komaidi, Rabu (22/4).
Data menunjukkan jurang yang lebar antara konsumsi dan produksi. Indonesia mengonsumsi 1,6 juta barel minyak per hari, namun produksi domestik hanya mampu menyuplai 600 ribu barel. Defisit 1 juta barel setiap harinya dipenuhi melalui impor yang seluruhnya melewati Singapura.
Baca Juga: Bahlil Blak-blakan Negosiasi Pembelian LPG dari Rusia Masih Alot
Kondisi ini diperparah dengan ancaman penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi bagi 13% impor minyak mentah dan 20% impor BBM Indonesia. Jika jalur ini terganggu, Indonesia terpaksa beralih mencari pasokan ke wilayah jauh seperti Texas, Amerika Serikat.
“Jarak tempuh dari Arab Saudi hanya 8-12 hari, sementara dari Amerika mencapai 45 hari. Padahal cadangan operasional kita hanya cukup untuk 25 hari. Stok di sini habis sebelum barang dari Amerika sampai,” jelas Komaidi.