
loading…
Presiden AS Donald Trump. Foto/anadolu
Namun, di balik citra tersebut, muncul pola yang menarik. Sejumlah kebijakan yang dijalankan pemerintahan Trump justru memiliki kemiripan dengan taktik yang lebih dulu digunakan oleh musuh-musuh Washington sendiri.
Mulai dari strategi blokade jalur pelayaran hingga yang terbaru, gagasan mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi jalur laut strategis, langkah Trump dinilai mengadopsi pendekatan yang sebelumnya diterapkan atau diancam dilakukan oleh pihak yang selama ini menjadi musuh geopolitik Amerika.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana strategi yang awalnya dikritik sebagai ancaman terhadap kebebasan pelayaran justru kemudian digunakan dalam bentuk berbeda oleh Washington ketika dianggap menguntungkan kepentingannya.
Meniru Strategi Blokade Laut ala Houthi
Kelompok Houthi di Yaman menjadi sorotan dunia sejak akhir 2023 ketika mereka mulai menyerang kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Israel di Laut Merah. Serangan menggunakan rudal dan drone membuat lalu lintas perdagangan internasional terganggu.
Banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari Laut Merah dan Terusan Suez dengan memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Akibatnya, biaya logistik meningkat dan waktu pengiriman menjadi jauh lebih lama.
Amerika Serikat ketika itu mengecam keras tindakan Houthi. Washington menyebut aksi tersebut sebagai ancaman terhadap kebebasan navigasi internasional dan membentuk koalisi maritim untuk melindungi kapal-kapal dagang.
Ironisnya, beberapa waktu kemudian pemerintahan Trump justru mulai menerapkan tekanan maritim terhadap musuh-musuhnya melalui pendekatan yang memiliki karakter serupa, yakni menghambat akses pelayaran menuju negara sasaran.
Alih-alih menggunakan rudal seperti Houthi, Washington memanfaatkan kekuatan angkatan laut, sanksi ekonomi, serta ancaman terhadap perusahaan pelayaran untuk membatasi aktivitas perdagangan negara yang menjadi target.
Venezuela Jadi Sasaran Blokade Maritim AS
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah kebijakan terhadap Venezuela.
Pemerintahan Trump meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro melalui operasi laut yang bertujuan mempersempit ruang gerak ekspor minyak negara tersebut.
Kapal-kapal yang diduga mengangkut minyak Venezuela berada dalam pengawasan ketat. Berbagai perusahaan pelayaran dan pembeli minyak juga menghadapi ancaman sanksi apabila tetap berbisnis dengan Caracas.
Secara praktik, kebijakan tersebut menciptakan efek yang mirip dengan blokade ekonomi melalui laut. Walaupun tidak selalu berupa penutupan resmi jalur pelayaran, tekanan terhadap kapal, perusahaan asuransi, hingga pembeli minyak membuat ekspor Venezuela mengalami hambatan signifikan.
Pendekatan ini menunjukkan Washington juga menggunakan kontrol atas jalur perdagangan laut sebagai instrumen tekanan geopolitik, sama seperti yang dilakukan Houthi dengan cara berbeda.