
loading…
Kepala BPOM, Prof Taruna Ikrar menyatakan ancaman keamanan pangan kini bergerak secepat rantai pasok global, termasuk ASEAN. Foto/Ist
Oleh karena itu, negara-negara ASEAN dinilai tidak lagi cukup mengandalkan mekanisme pengawasan nasional. Kawasan membutuhkan sistem tanggap darurat keamanan pangan yang terintegrasi, cepat, berbasis sains, dan mampu bekerja melintasi batas negara.
Baca juga: Indonesia Dorong Keamanan Pangan, Selandia Baru Komitmen Hadirkan Produk Berkualitas
“Dalam rantai pasok pangan yang semakin saling terhubung, satu insiden keamanan pangan dapat dengan cepat melampaui batas negara, berdampak pada kesehatan masyarakat, mengganggu perdagangan, dan mengikis kepercayaan konsumen,” kata Taruna saat membuka ASEAN Food Safety Emergency Response (FSER) Tabletop Simulation Exercise di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Forum tersebut mempertemukan delegasi, pakar, fasilitator, serta perwakilan negara-negara anggota ASEAN untuk menguji kesiapan kawasan menghadapi kedaruratan keamanan pangan. Simulasi berlangsung selama tiga hari dan dirancang untuk menguji mekanisme respons ketika sebuah insiden berpotensi menyebar lintas negara.
Taruna menilai tantangan keamanan pangan semakin rumit karena sistem produksi dan distribusi pangan kini terhubung dalam jejaring regional maupun global. Produk dapat berpindah dari satu negara ke negara lain dalam waktu singkat, sementara bahaya baru terus muncul dan berkembang.
Baca juga: Dosen UAJ Raih Penghargaan Penelitian dalam Bidang Keamanan Pangan
Dalam kondisi itu, keterlambatan deteksi atau pertukaran informasi dapat memperbesar dampak sebuah insiden. Persoalan yang semula bersifat lokal berpotensi berubah menjadi masalah regional sebelum otoritas sempat mengambil langkah pengendalian.