
loading…
Uni Emirat Arab (UEA) mengungkapkan alasan memutuskan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). FOTO/Oil&Gas Middle East
“Kita melihat bahwa kita mendekati semacam musim gugur dalam era hidrokarbon. Jika mampu memproduksi lebih banyak, masuk akal untuk melakukannya sekarang daripada meninggalkan minyak di dalam perut bumi saat nilainya menurun,” ujar Anwar Gargash dikutip dari Market Screener, Minggu (24/5/2026).
Baca Juga: ADNOC Siapkan Investasi Rp953 Triliun Pascakeluarnya UEA dari OPEC
Keputusan keluar dari OPEC telah direncanakan selama sekitar tiga tahun dan resmi berlaku pada 1 Mei, setelah sebelumnya diumumkan pada 28 April. Dengan demikian, UEA mengakhiri keanggotaannya yang telah berlangsung sejak 1967.
Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di dalam OPEC setelah Arab Saudi dan Irak, keluarnya UEA diperkirakan memangkas kapasitas produksi kelompok tersebut sekitar 12 hingga 15 persen. Langkah ini sekaligus menandai perubahan signifikan dalam dinamika industri energi global.
Pemerintah UEA menyatakan kebijakan tersebut merupakan hasil evaluasi strategi produksi nasional dalam jangka panjang. Menteri Energi Suhail Mohamed al-Mazrouei sebelumnya menyebut keputusan itu juga didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi permintaan energi global yang terus meningkat.