
loading…
Mobil hidrogen menghadapi penurunan penjualan global, tetapi tetap bertahan sebagai solusi untuk transportasi berat dan industri. Foto: Hyundai Indonesia
Data global mencatat penjualan kendaraan hidrogen berbasis fuel cell (FCEV) turun 27,2 persen pada paruh pertama 2025, dengan total hanya 4.102 unit.
Angka ini memperlihatkan bahwa teknologi yang pernah digadang sebagai solusi masa depan masih belum menemukan momentum pasar.
Penurunan ini terjadi di hampir semua wilayah utama, termasuk Eropa, Jepang, hingga Amerika Serikat. Bahkan di Jerman, salah satu negara industri otomotif terbesar, hanya 49 mobil hidrogen yang terdaftar sepanjang 2025—turun 69 persen dibanding tahun sebelumnya, jauh tertinggal dari sekitar 545.000 mobil listrik berbasis baterai.
Masalah utama bukan pada teknologinya, tetapi pada ekosistem.
Infrastruktur pengisian hidrogen masih sangat terbatas. Di banyak negara, stasiun pengisian hanya tersedia di lokasi tertentu, seperti California di Amerika Serikat.
Bahkan di Jerman, jumlah stasiun hidrogen turun dari sekitar 80 menjadi sedikit di atas 50, dan banyak di antaranya tidak menguntungkan secara bisnis.
Selain itu, efisiensi energi juga menjadi sorotan. Hidrogen harus diproduksi dari listrik—kemudian dikompresi, disimpan, dan dikonversi kembali menjadi energi di kendaraan. Proses berlapis ini membuat efisiensinya lebih rendah dibanding kendaraan listrik baterai.
Namun, tidak semua negara mengambil pendekatan yang sama.