
loading…
Saat pasien stroke masuk IGD, waktu jadi hal paling krusial dan dampaknya bisa serius. Foto/ist
Sistem tersebut diperkenalkan lewat penelitian berjudul “Artificial Intelligence-Assisted Code Stroke Activation for Identification of Thrombolysis-Eligible Stroke.” Fokusnya bukan menggantikan dokter, melainkan membantu workflow penanganan stroke di ruang gawat darurat yang sering berjalan di bawah tekanan waktu.
Stroke sampai sekarang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Masalahnya, penanganan pasien stroke akut harus dilakukan dalam golden period atau kurang dari 4,5 jam agar terapi trombolisis bisa maksimal. Di lapangan, kondisi IGD yang sibuk sering membuat proses identifikasi pasien jadi lebih kompleks.
“Nah, di situ tantangannya. Tenaga medis harus mengambil keputusan cepat, sementara dokumentasi, evaluasi pasien, dan alur kerja stroke juga harus tetap berjalan,” kata dr. M. Joyo Santoso.
Lewat sistem yang ia kembangkan, proses penanganan stroke dibuat lebih terintegrasi. Mulai dari aktivasi code stroke, anamnesa, evaluasi klinis, sampai monitoring pasien setelah terapi dilakukan dalam satu alur workflow dengan dukungan AI