
loading…
Pasar minyak global berisiko mencapai titik kritis dalam tiga bulan ke depan seiring menipisnya cadangan global. FOTO/Reuters
“Pasar masih memiliki bantalan, tetapi terbatas dan terus terkuras dengan cepat. Setiap hari gangguan aliran melalui Selat Hormuz memperbesar tekanan pada sistem energi global,” ujar dia dikutip dari Reuters, Jumat (20/5/2026).
Baca Juga: Netanyahu Sangat Marah setelah Panggilan Telepon Trump tentang Iran
Gangguan utama berasal dari tertutupnya Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas global. Hingga hampir tiga bulan sejak konflik AS-Israel dengan Iran pada 28 Februari, jalur strategis tersebut masih belum sepenuhnya pulih meski upaya gencatan senjata terus dilakukan.
Untuk mengatasi kekurangan pasokan sekitar 13 juta barel per hari, industri energi global mengandalkan sumber alternatif, pelepasan cadangan strategis, serta penurunan konsumsi. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan telah mengoordinasikan pelepasan cadangan strategis sebesar 400 juta barel, sementara negara importir beralih ke pasokan dari Amerika Serikat (AS) dan Amerika Latin.
Namun, cadangan tersebut dinilai tidak akan bertahan lama. Data Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan stok minyak global menyusut dengan laju tercepat 5,27 juta barel per hari pada Maret dan meningkat menjadi 8,62 juta barel per hari pada April, dengan penurunan diperkirakan mencapai puncak sekitar 9 juta barel per hari pada Mei.