
loading…
Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro dalam diskusi di di Jakarta, Rabu (19/11/2025). FOTO/dok.SindoNews
“Strategi memaksimalkan bisnis eksisting dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas kilang. KPI juga membangun bisnis low carbon dengan mengembangkan green refinery dan menghasilkan produk-produk berbahan baku nabati,” ungkap Pth. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI Prayitno dalam diskusi di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Siap Operasikan RFCC Terbesar di Balikpapan Kuartal IV-2025
Prayitno menjelaskan, untuk pengembangan bahan bakar nabati, KPI mengimplementasikan sejumlah strategi. Pertama, melalui Co-Processing yaitu bahan baku nabati diproses melalui pencampuran dengan bahan baku fosil pada fasilitas eksisting. Dengan strategi ini, kata dia, KPI telah mampu menghasilkan bioavtur Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak inti sawit atau Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil.
Kemudian, melalui konversi, di mana bahan baku nabati 100 persen diproses menjadi bahan bakar. Pada strategi ini, KPI telah mampu memproduksi biodiesel 100% dengan jenis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Produk KPI ini dikenal dengan Pertamina Renewable Diesel (RD).
KPI juga telah mengembangkan Green Refinery yang dapat mengolah bahan baku limbah, salah satunya adalah Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah, menjadi bahan bakar. Proses produksinya dilakukan di Kilang Cilacap, dan rencananya akan dikembangkan di Kilang Dumai dan Balongan.