
loading…
Peneliti sekaligus pendiri Populix, Timothy Astandu menilai indikator ekonomi tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai tingkat kebahagiaan. FOTO/dok.SindoNews
Kesimpulan tersebut diperoleh dari observasi lapangan yang ia lakukan saat mengunjungi 197 negara wilayah di dunia, yang memperlihatkan bahwa faktor sosial, budaya, dan psikologis memiliki peran penting dalam membentuk kualitas hidup masyarakat.
“Tidak berarti negara yang ekonominya lebih maju itu lebih bahagia. Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata, masyarakatnya terlihat lebih bahagia. Peningkatan ekonomi itu bagus, namun faktor penentu kebahagiaan tidak hanya dipengaruhi oleh itu saja,” kata Timothy dalam pernyataannya, dikutip pada Minggu (7/6/2026).
Baca Juga: Rasa Syukur dalam Kesederhanaan
Menurut dia, anggapan bahwa peningkatan kesejahteraan material akan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan sulit dibuktikan secara universal. Di sejumlah negara yang dikunjunginya, kesederhanaan hidup justru menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat terlihat lebih menikmati kehidupan sehari-hari.
Observasi tersebut dilakukan di 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara pengamat PBB yakni Vatikan dan Palestina, serta Taiwan dan Kosovo. Perjalanan itu telah mendapat pengakuan dari Travelers’ Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).