
loading…
Kapal tanker minyak mentah berkapasitas sangat besar (VLCC) berbaris di Pelabuhan Corpus Christi, tempat mereka sedang dimuat dengan minyak mentah untuk dikirim ke seluruh dunia, dalam foto yang disediakan ini yang diambil pada Juli 2022. FOTO/Reuters
“500 juta barel minyak yang hilang setara dengan membatasi permintaan aviasi global selama 10 minggu, perjalanan darat seluruh kendaraan dunia selama 11 hari, atau konsumsi minyak ekonomi global selama lima hari,” ujar Analis Utama Wood Mackenzie, Iain Mowat, dikutip dari Reuters, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Gejolak Harga Minyak Berlanjut
Berdasarkan data Kpler, sejak akhir Februari, gangguan pasokan mencapai 500 juta barel minyak mentah dan kondensat merupakan gangguan terbesar dalam sejarah modern. Kerugian tersebut setara hampir satu bulan permintaan minyak AS, lebih dari satu bulan untuk seluruh Eropa, enam tahun konsumsi bahan bakar militer AS, serta empat bulan kebutuhan pengiriman laut internasional.
Negara-negara Teluk Arab kehilangan sekitar 8 juta barel per hari (bph) produksi pada Maret, setara gabungan produksi Exxon Mobil dan Chevron, dua raksasa minyak dunia. Ekspor jet fuel dari Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, dan Oman anjlok dari 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel untuk Maret dan April gabungan.
Volume ekspor yang hilang cukup untuk 20.000 penerbangan bolak-balik antara Bandara JFK New York dan Heathrow London, kata Reuters. Dengan harga minyak rata-rata USD100 per barel sejak konflik, kerugian pendapatan mencapai USD50 miliar atau setara 1% PDB Jerman tahunan atau seluruh PDB Latvia dan Estonia.