
loading…
Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman menyambut Presiden China Xi Jinping di ibu kota Riyadh, Arab Saudi, pada 8 Desember 2022. FOTO/Istana Kerajaan Arab Saudi
“Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk perlintasan normal, karena hal ini demi kepentingan bersama negara-negara kawasan dan komunitas internasional,” ujar Xi, seperti dikutip kantor berita Xinhua, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: Tandingi Sekutu AS, Kapal Induk China Unjuk Kekuatan di Selat Taiwan
Seruan muncul di tengah kekhawatiran China terhadap stabilitas jalur energi global, menyusul memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan meningkat setelah Washington menyita kapal kargo berbendera Iran, yang kemudian memicu respons keras dari Teheran.
Sebagai salah satu importir utama minyak mentah Iran, China memiliki kepentingan strategis terhadap kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menjadi rute vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Situasi semakin kompleks setelah Iran dilaporkan membatasi akses selat bagi kapal asing, sementara Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan gencatan senjata yang rapuh di kawasan.