
loading…
Jurnal Al Jazeera Ahmed Wishah menjadi korban kekejaman Israel. Foto/X/@Coinvo
Wishah, 25 tahun, tewas pada hari Sabtu, beberapa minggu setelah saudaranya, Mohammed, yang juga bekerja untuk jaringan yang berbasis di Doha, tewas dalam penembakan yang disengaja oleh Israel terhadap mobilnya.
Setidaknya 260 jurnalis Palestina telah tewas sejak Israel melancarkan perang genosida pada Oktober 2023, menurut Komite Perlindungan Jurnalis.
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
1. Asli Palestina
Lahir di kamp pengungsi Bureij, Ahmed Samir Mohammed Wishah adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia bekerja sebagai juru kamera untuk Al Jazeera Mubasher.
Jurnalis tersebut tewas ketika serangan udara Israel menghantam sebuah rumah. Dua warga Palestina lainnya juga tewas dalam serangan tersebut karena Israel terus melanjutkan serangannya meskipun ada “gencatan senjata” pada bulan Oktober.
Wishah menjadi terkenal selama perang Gaza karena menemani dan merekam footage untuk mendiang saudaranya, seorang koresponden Al Jazeera Mubasher yang tewas pada 8 April.
Bersama-sama, mereka membentuk duo media yang mendokumentasikan penderitaan rakyat Palestina dan peristiwa perang yang sedang berlangsung.
Dalam sebuah wawancara setelah kematian saudaranya, Wishah menyerukan kepada dunia untuk menghentikan pembunuhan jurnalis.
“Biarlah kemartiran Mohammed Wishah menjadi akhir dari pembunuhan jurnalis. Inilah pesan saya kepada dunia. Seseorang harus menghentikan pendudukan dari menargetkan jurnalis. Itulah satu-satunya pesan kami: Hentikan pendudukan Israel dari menargetkan jurnalis,” kata Ahmed pada bulan April.
Dedikasi Ahmed kepada saudaranya jauh melampaui tugas jurnalistiknya.
Setelah kematian Mohammed, ia juga merawat anak-anak mendiang saudaranya dan memikul tanggung jawab tambahan dalam keluarga mereka.
2. Teman yang Setia
Talal Mahmoud, seorang koresponden Al Jazeera Mubasher di Gaza, mengenang kedekatannya dengan kedua bersaudara itu.