dari Kudeta hingga Operasi CIA yang Mengubah Timur Tengah



loading…

Negara Republik Islam Iran yang sekarang berperang melawan AS dan Israel dulunya bernama Persia. Foto/IQNA

JAKARTA Republik Islam Iran sedang berperang melawan Amerika Serikat (AS) dan Iran meski saat ini sedang memasuki fase gencatan senjata. Ribuan tahun silam, dunia mengenal republik itu sebagai Persia—tanah para raja, pujangga, dan imperium besar yang pernah membuat Romawi hingga Ottoman gentar.

Sekarang, Republik Islam Iran tercatat sebagai negara revolusioner yang kerap menjadi pusat konflik Timur Tengah, benturan geopolitik global, hingga perang bayangan antara Barat dan dunia Islam.

Baca Juga: Situasi Genting, Iran Juga Siap Perang Lagi Melawan AS dan Israel

Perjalanan Persia menjadi Iran bukan sekadar pergantian nama. Ia adalah kisah panjang tentang kerajaan yang runtuh, intervensi asing, kudeta berdarah, revolusi atas nama agama, dan perebutan pengaruh global yang tak pernah benar-benar berhenti.

Di balik wajah modern Iran hari ini, sejarah negeri itu dipenuhi momen-momen “pengkhianatan politik” yang membentuk karakter keras Republik Islam sekarang.

Persia, Negeri Imperium yang Pernah Menguasai Dunia

Secara historis, Persia merupakan salah satu peradaban tertua dunia. Kekaisaran Persia kuno berdiri sejak era Dinasti Achaemenid yang didirikan oleh Cyrus the Great pada abad ke-6 Sebelum Masehi (SM).

Wilayah kekuasaannya membentang dari Asia Tengah hingga Mesir. Persia menjadi simbol kekuatan politik, budaya, dan perdagangan dunia kuno. Bahkan dalam sejarah Barat mendominasi dunia, Persia selalu muncul sebagai rival besar Yunani dan Romawi.

Namun seiring waktu, imperium itu mengalami jatuh bangun—ditaklukkan Alexander Agung, bangkit kembali lewat Sassaniyah, lalu berubah total setelah penaklukan Islam Arab pada abad ke-7.

Meski Islam masuk, identitas Persia tidak pernah benar-benar hilang. Bahasa, budaya, dan nasionalisme Persia tetap bertahan—dan inilah yang membedakan Iran dari banyak negara Arab hingga sekarang.

Dinasti Safavid, Awal Iran Modern dan Lahirnya Identitas Syiah

Mengutip dari Britannica, Minggu (17/5/2026), banyak sejarawan menyebut Iran modern lahir pada era Dinasti Safavid abad ke-16. Dinasti ini menjadikan Islam Syiah sebagai agama resmi negara.

Keputusan itu sangat menentukan arah sejarah Iran hingga kini.

Saat mayoritas dunia Islam menganut Sunni, Persia justru membangun identitas Syiah yang kuat. Identitas inilah yang kemudian menjadi fondasi ideologi Republik Islam Iran modern.

Namun memasuki abad ke-19, Persia mulai melemah. Kekaisaran Rusia dan Inggris perlahan masuk mengendalikan ekonomi dan politik negeri itu.

Pada era Dinasti Qajar, Persia menjadi “medan perebutan” antara Inggris dan Rusia dalam persaingan geopolitik yang dikenal sebagai “The Great Game”.

Pemerintah Persia saat itu dianggap lemah, korup, dan terlalu bergantung pada kekuatan asing.

Ketidakpuasan rakyat melahirkan Revolusi Konstitusi Persia 1905–1911, sebuah gerakan yang memaksa raja menerima parlemen dan konstitusi modern. Banyak analis menyebut revolusi ini sebagai salah satu eksperimen demokrasi pertama di Timur Tengah.

Namun stabilitas tidak pernah benar-benar tercapai. Salah satu titik balik terbesar terjadi pada 1921 ketika seorang perwira militer bernama Reza Shah Pahlavi melakukan kudeta militer.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *