
loading…
Dzulfikar Rezky, Investment Specialist dan Direktur Citra Wisesa Energi. Foto/Dok. SindoNews
Investment Specialist dan Direktur Citra Wisesa Energi
KABUPATEN Banyuasin sedang memasuki fase penting dalam peta investasi Sumatera Selatan. Selama ini, Banyuasin hanya dipandang sebagai wilayah penyangga Palembang, lumbung pangan, dan sekedar jalur lintasan ekonomi bukan pusat ekonomi. Pandangan itu tidak sepenuhnya keliru, Banyuasin telah melaju menuju simpul baru bagi investasi energi, logistik, hilirisasi, properti, dan utilitas kawasan.
Investor sejatinya tidak hanya tergiur pada sumber daya alam. Kita mencari kepastian arah, konektivitas, dukungan kebijakan, pasar, dan ekosistem yang memungkinkan modal tumbuh. Banyuasin mulai menunjukkan arah pembangunan yang semakin konkret. Bumi Sedulang Setudung memiliki kombinasi yang cukup kuat untuk menjadi destinasi titik baru investasi di Sumatera Selatan.
DKI Jakarta dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Jawa Timur dengan Pelabuhan Tanjung Perak, Sumatera Selatan dengan Pelabuhan Tanjung Carat. Meskipun agak berlebihan, proyek di Tanjung Carat penting bukan hanya tentang pembangunan pelabuhan, tetapi juga tentang pembentukan pusat ekonomi baru. Dengan pertimbangan kedekatan kawasan terhadap sumber komoditas, infrastruktur logistik, dan pasokan energi, Tanjung Carat segera disulap menjadi kawasan ekonomi khusus hilirisasi. Tanjung Carat telah berstatus sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Status PSN Tanjung Carat melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 ini menjadi sinyal penting bagi investor. Artinya, Tanjung Carat bukan sekadar agenda lokal, melainkan bagian dari prioritas pembangunan nasional. Arah pengembangan menuju Kawasan Ekonomi Khusus memberi pesan bahwa kawasan ini tidak hanya akan menjadi tempat keluar-masuk barang, tetapi juga diarahkan sebagai ruang pengolahan.
Bailey, Gray, Lee, dan Bentley (2023) dalam Place-Based Industrial and Regional Strategy: Levelling the Playing Field menjelaskan strategi industri modern tidak cukup hanya berbasis sektor, tetapi harus ditambahkan pada kekuatan spesifik suatu wilayah, yakni aset lokal, konektivitas, kapasitas kelembagaan, dan peluang pasar. Pendekatan place-based industrial policy relevan untuk membaca arah pembangunan Banyuasin dengan ketersediaan sumber daya yang mumpuni membentuk ekosistem kawasan berbasis pelabuhan, energi, komoditas, dan hilirisasi.
Dengan kerangka tersebut, Banyuasin menempati posisi strategis sebagai titik baru investasi Sumatera Selatan dengan Tanjung Carat yang berperan sebagai jangkar kawasan. Potensi energi menjadi daya dukung industri, sawit dan komoditas lokal menjadi basis hilirisasi, logistik dan pergudangan menjadi sektor penghubung, sementara properti dan utilitas menjadi sektor ikutan yang tumbuh seiring masuknya aktivitas ekonomi. Artinya, investasi di Banyuasin dapat membentuk rantai nilai yang saling menguatkan dan terintegrasi satu sama lain.
Dari sisi energi, Banyuasin memiliki prospek yang tidak kalah menarik dan menggiurkan bagi para investor. Wilayah ini berada dalam ekosistem Sumatera Selatan yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis energi nasional. Ada potensi besar terkait akumulasi minyak pada kedalaman relatif dangkal sekitar 65 meter yang umumnya 150 meter.
Apabila terus dikonfirmasi melalui kajian teknis dan keekonomian yang memadai, dapat menjadi indikasi efisiensi eksplorasi ke depan. Namun potensi energi ini tidak boleh hanya dibaca dalam logika eksploitasi bahan mentah. Nilainya akan jauh lebih besar apabila energi ditempatkan sebagai fondasi bagi industri, logistik, dan kawasan hilirisasi.