
loading…
Bertepatan dengan Hari Diabetes Nasional, di tahun ini, fakta Indonesia masih menduduki peringkat kelima di dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak. Foto/Weil Cornell Medicine
Menyikapi urgensi tersebut, dr. Kelvin Candiago, M.M., MARS., DABRM., seorang dokter dan pengembang ekosistem kesehatan terintegrasi, menyoroti perlunya evaluasi terhadap tata laksana diabetes tipe 2 di Indonesia yang selama ini masih sangat bertumpu pada pendekatan medicine-centric.
Berbekal observasi mendalam yang berawal dari pengalaman pribadi mendampingi sang ayah yang memiliki diabetes dengan komplikasi penyakit jantung, hingga praktik klinisnya menangani ribuan pasien diabetes, dr. Kelvin menyadari bahwa pengendalian angka gula darah semata tanpa diikuti perbaikan sistem tubuh dan gaya hidup tidaklah cukup. Pendekatan konvensional yang ada belum sepenuhnya mampu mencegah risiko komplikasi lanjutan secara berkelanjutan.
“Pendekatan medicine-centric sangat penting untuk stabilisasi kondisi awal, namun secara desain belum ditujukan untuk perbaikan pola hidup jangka panjang. Dalam penanganan diabetes yang berkelanjutan, medikasi seharusnya diposisikan sebagai jembatan, bukan tujuan akhir. ” ujar dr. Kelvin Candiago.
Beliau juga menambahkan, bahwa hal di atas belum cukup. “Kita membutuhkan kombinasi yang terstruktur antara medikasi, nutrisi, dan monitoring,” tambahnya. Maka dari itu, dalam pengembangan pendekatan penanganan Diabetes Tipe 2, dr. Kelvin Candiago memperkenalkan sebuah kerangka metodologis yang dikenal sebagai Protokol 3R. Kerangka ini terdiri dari tiga tahapan utama dalam pengelolaan kondisi metabolik pasien, yaitu: