Sinyal Bahaya bagi Produsen yang Lambat Beradaptasi dengan Listrik



loading…

Data GAIKINDO 2019-2026 memotret penyusutan tajam segmen mobil murah (LCGC) yang berbanding terbalik dengan lompatan penjualan mobil listrik murni yang kini telah menguasai hampir 16 persen pangsa pasar nasional. Foto: BYD Indonesia

JAKARTA – Industri otomotif nasional kini tak lagi sekadar berganti model, melainkan sedang mengalami perombakan struktur besar-besaran seiring dengan merosotnya pangsa pasar mesin pembakaran internal (ICE) dari 99,6 persen pada 2021 menjadi sisa 75,3 persen di awal 2026.

Berdasarkan data wholesales GAIKINDO periode 2019 hingga Maret 2026, terjadi anomali yang mencolok dalam perilaku belanja otomotif masyarakat.

Tren yang paling terasa adalah kebangkitan Battery Electric Vehicle (BEV). Pada 2019, penjualan mobil listrik murni masih nihil (0 unit), namun pada akhir 2025 angkanya meroket ke 103.931 unit atau menguasai 12,9 persen pasar.

Hanya dalam tiga bulan pertama 2026 (YTD Maret), BEV sudah mengamankan 33.150 unit dengan pangsa 15,9 persen.

Kritik atas Kematian Perlahan Mobil Murah (LCGC)

Di balik euforia mobil listrik, terdapat duka di segmen mobil murah atau KBH2 (LCGC). Pada 2019, mobil segmen ini adalah primadona dengan penjualan 217.454 unit (pangsa 21,1 persen).

Namun, per Maret 2026, pangsanya menciut hingga tinggal 13,8 persen dengan distribusi hanya 28.831 unit.

Penurunan tajam LCGC ini menjadi alarm kritis bagi daya beli masyarakat kelas menengah-bawah. Ketika teknologi listrik murni (BEV) melesat, segmen “mobil rakyat” ini justru layu.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *