Lebih dari Sekadar Aspal dan Marka



loading…

Dosen Teknik Sipil Universitas Tarakanita Jakarta Muhammad Arif Arofah. Foto/Utarki.

Dosen Teknik Sipil Universitas Tarakanita Jakarta, Tenaga Ahli Transportasi – Ahli Madya Teknik Jalan, Muhammad Arif Arofah

Luka di Balik Statistik: Mengapa Harus Peduli?

Setiap pagi, rutinitas berangkat menuju tempat kerja, sekolah, atau pusat aktivitas selalu dimulai dengan doa dan harapan. Kalimat “Hati-hati di jalan” telah menjadi penutup percakapan yang rutin di setiap rumah.

Namun, realitas di lapangan berkata lain. Secara global, laporan kesehatan dunia terbaru menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas masih menjadi “pandemi tersembunyi” dengan angka kematian mencapai lebih dari 1,2 juta jiwa per tahun, di mana mayoritas korban adalah usia produktif.

Di Indonesia sendiri, memasuki periode 2025-2026, data Korlantas Polri mencatat angka kecelakaan masih fluktuatif di angka yang mengkhawatirkan, dengan rata-rata lebih dari 100.000 kejadian per tahun yang didominasi oleh kendaraan roda dua.

Angka-angka ini bukan sekadar deretan statistik untuk laporan tahunan instansi terkait. Di balik satu angka korban meninggal dunia, ada mimpi yang terhenti, ada kursi yang kosong di meja makan, dan ada duka mendalam bagi keluarga yang menanti kepulangan orang tercinta.

Seringkali, fokus pembangunan hanya tertuju pada kemegahan infrastruktur—aspal yang mulus dan jalan tol yang panjang—namun melupakan aspek paling fundamental: manusia yang menggunakannya. Inilah saatnya untuk memanusiakan kembali jalan raya kita.

Jalanan: Ruang Berbagi, Bukan Arena Kompetisi

Ada fenomena psikologis yang menarik sekaligus menyedihkan di jalanan kota-kota besar. Seseorang yang sangat sopan dalam kehidupan sehari-hari bisa berubah menjadi sosok temperamental saat berada di balik kemudi.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *