
loading…
Harryanto Aryodiguno, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/Dok. SindoNews
Ass. Prof. International Relations, President University
ESKALASI militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menegaskan bahwa Timur Tengah masih menjadi salah satu episentrum ketegangan geopolitik dunia. Konflik ini bukan sekadar persoalan siapa yang benar atau salah, melainkan cerminan dari struktur hubungan internasional yang sarat ketidakpercayaan dan kalkulasi kekuatan.
Dalam sistem internasional yang anarkis, negara-negara bertindak berdasarkan persepsi ancaman dan kepentingan keamanan. Iran memandang tekanan militer sebagai ancaman terhadap keberlangsungan negaranya. Israel melihat penguatan militer Iran sebagai risiko eksistensial. Amerika Serikat menempatkan stabilitas kawasan dalam kerangka arsitektur kekuatan globalnya.
Dalam konfigurasi seperti itu, ruang bagi mediasi tidak hanya ditentukan oleh niat baik, tetapi juga oleh kapasitas dan posisi strategis. Di tengah situasi tersebut, pernyataan Presiden Indonesia yang menyatakan kesiapan untuk melakukan langkah diplomatik ke Teheran mencerminkan tradisi politik luar negeri bebas-aktif.
Sejak era awal kemerdekaan, Indonesia memang berupaya mengambil posisi sebagai suara yang independen dan mendorong penyelesaian konflik melalui dialog. Namun, dalam konteks konflik berskala besar dan melibatkan kekuatan utama dunia, pertanyaan yang wajar muncul adalah: sejauh mana Indonesia memiliki daya pengaruh yang nyata?