
loading…
Penarikan utang negara-negara berkembang menjadi rekor di awal tahun 2026. FOTO/Shutterstock
Capaian tersebut menjadi rekor awal tahun seiring minat investor yang menguat di tengah kondisi pinjaman paling menguntungkan dalam lebih dari satu dekade. Lonjakan penerbitan ini ditopang menyempitnya spread obligasi sovereign dollar negara berkembang terhadap U.S. Treasuries ke kisaran 2,5 poin persentase, terendah sejak Januari 2013.
Berdasarkan ukuran premi risiko JPMorgan Chase & Co., kondisi itu mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap disiplin fiskal negara-negara emerging markets, sekaligus pergeseran aliran modal dari Amerika Serikat (AS).
“Permintaan seimbang dengan pasokan, dan hampir tidak ada konsesi pada penerbitan baru,” kata Tatjana Greil Castro, manajer di J.P. Morgan Investment Management dikutip dari Bloomberg, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Pemerintah Tarik Utang Baru Rp744 Triliun, Melebihi Defisit APBN 2025