
loading…
Di tengah geliat pemulihan ekonomi pasca-pandemi, Bali memasuki fase ekspansi. Foto/istimewa
Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara—mencapai 2,64 juta orang dalam lima bulan pertama 2025—menjadi mesin penggerak utama. Angka ini naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu, didorong oleh kembali maraknya agenda MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan festival budaya berskala internasional.
Namun, di balik tren positif ini, terselip tantangan besar. Tingkat hunian hotel di Bali justru turun 10– 20 persen dibanding tahun sebelumnya. Penyebabnya antara lain maraknya akomodasi ilegal dan short-term rental yang tidak terdaftar, memicu kebocoran pendapatan daerah dan mengancam ekosistem pariwisata formal.
Ajang Kolaborasi Strategis
Persoalan ini menjadi bahasan utama Bali Entrepreneurship Minifest 2025 yang dihelat oleh IEF Research Institue berkolaborasi dengan Himpunan Pengusaha Kahmi (HIPKA) Bali di Denpasar, Kamis (14/8). Forum ini menghadirkan tiga pembicara lintas sektor, antara lain Ketua PHRI Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si (Cok Ace), Direktur Eksekutif IEF Research Institute Ariawan Rahmat, dan praktisi bisnis Khairul Mahfuz.
Acara yang didukung oleh Bank BRI, IC Consultant dan Ay’s On You (AOY) ini dihadiri kurang lebih 100 pelaku UMKM dan para pengusaha di Bali.
Direktur Eksekutif IEF Research Institute Ariawan Rahmat menyampaikan, cara tersebut bertujuan untuk membangun sinergi pemerintah–pengusaha–masyarakat dalam memperkuat daya saing Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ariawan Rahmat menyoroti pentingnya kesiapan administrasi dan tata kelola usaha di tengah iklim ekonomi yang kondusif di Bali agar bisnis mampu mencapai keberlanjutan.