
loading…
Kunci pertama dan paling krusial dari Eco Driving adalah seni mengolah pedal gas. Foto: Sindonews/Danang Arradian
Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, lonjakan harga energi ini tentu akan menjadi pukulan telak bagi biaya operasional kendaraan sehari-hari.
Solusi paling logis dan aplikatif saat ini adalah mengubah gaya mengemudi dari yang serampangan menjadi Eco Driving (berkendara ramah lingkungan).
PT Toyota-Astra Motor (TAM) dan PT Honda Prospect Motor (HPM) sepakat bahwa kebiasaan mengemudi yang efisien tidak hanya mencegah keausan mesin, tetapi mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak hingga 25 persen.
Seni Menjinakkan Pedal Gas dan Rem
Kunci pertama dan paling krusial dari Eco Driving adalah seni mengolah pedal gas. “Semakin keras Anda berakselerasi, semakin banyak bahan bakar yang Anda gunakan,” demikian catatan TAM.
Akselerasi mendadak ibarat membuang BBM ke jalanan. Praktik terbaiknya adalah menginjak pedal gas secara perlahan; luangkan waktu sekitar 5 detik penuh hanya untuk mencapai kecepatan 20 kilometer (km) per jam dari posisi berhenti total.
Bayangkan Anda sedang membawa secangkir kopi penuh di atas dasbor dan Anda tidak boleh menumpahkannya setetes pun.
Selanjutnya, pertahankan kecepatan stabil. Di rute perkotaan atau tol dalam kota, kecepatan paling ideal dan efisien adalah 50 hingga 80 km per jam.
Mengemudi di atas batas tersebut, apalagi gaya menyetir “gas-rem-gas-rem” yang memvariasikan kecepatan secara liar setiap 18 detik, terbukti meningkatkan konsumsi BBM hingga 20 persen.