
loading…
Mobil bekas tidak lagi jadi pilihan terpaksa, tapi pilihan cerdas di kondisi ekonomi seperti ini. Foto: Sindonews/Muhamad Fadli Ramadan
Fenomena ini adalah cerminan paling jujur dari realita ekonomi bangsa. Mimpi memiliki mobil baru kini semakin terasa seperti kemewahan yang tak terjangkau.
Namun, di tengah kelesuan ini, para pemain cerdas di pasar mobil bekas tidak hanya berpangku tangan; mereka melancarkan sebuah revolusi baru yang siap mengubah total persepsi publik tentang mobil “second”.
‘Penyakit’ Pasar Mobil Baru
Mengapa pasar mobil baru begitu lesu darah? Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, memaparkan diagnosisnya dengan gamblang. Beban ekonomi yang berat memaksa konsumen kelas menengah—tulang punggung utama penjualan—untuk mencari alternatif.
“Kalau mau beli (mobil baru), ekonominya juga lagi berat. Mereka pilihannya jadi mobil bekas. Satu, mobil bekas kan nggak ada BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor),” ujar Kukuh di Jakarta, Senin (25/8).
Pernyataan ini menggarisbawahi dua “penyakit” utama: daya beli yang melemah dan harga mobil baru yang terasa semakin mahal akibat beban pajak.