Harga Minyak Meroket, Angin Segar Buat Ekspansi Mobil Listrik China



loading…

Tingginya harga bahan bakar akibat konflik Timur Tengah memaksa konsumen global mempercepat transisi ke kendaraan listrik, membuka jalan lebar bagi dominasi industri otomotif China. Foto: Chery Indonesia

IRAN – Perang yang berkecamuk antara AS-Israel melawan Iran kini telah menjalar jauh melampaui medan tempur: memicu krisis energi terburuk dalam sejarah yang justru mempermudah jalan pabrikan mobil listrik (EV) China untuk menguasai dunia.

Lonjakan harga minyak mentah global yang “gila-gilaan” hingga menyentuh 50 persen sepanjang bulan Maret ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa.

Bencana ekonomi ini dipicu oleh terganggunya rute pasokan vital di Selat Hormuz—jalur nadi yang menyalurkan 20 persen minyak dunia—akibat gempuran militer serta serangan balasan ke fasilitas bahan bakar fosil.

Di tengah kepanikan global ini, konsumen yang tak lagi sanggup menanggung beban biaya operasional kendaraan berbahan bakar bensin mau tidak mau dipaksa mempercepat adopsi kendaraan listrik.

“Penutupan Selat Hormuz bisa menjadi game-changer (pengubah permainan) bagi EV,” tegas David Brown, Direktur Riset Transisi Energi di Wood Mackenzie, dalam laporan terbarunya.

Lompatan harga minyak ini akan menjadi insentif terkuat bagi konsumen global untuk beralih ke EV, sektor yang pada tahun lalu telah sukses mengantarkan China menyalip Jepang sebagai penjual mobil terbesar di dunia.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *