
loading…
Mobil Listrik Diborong. FOTO/ viet
Di sebuah dealer mobil di Bangkok, Thailand, gambaran seorang pria yang mengendarai Mercedes berhenti dengan segepok uang tunai di tangannya, siap membeli mobil listrik yang tidak pernah ia rencanakan untuk dimiliki, menjadi ilustrasi yang jelas dari pergeseran ini.
Menurut Samart Prakotkancharna, CEO Ratchapruek P Car Center di Bangkok, pelanggan tersebut menjelaskan bahwa ia khawatir “tidak akan lagi bisa mengisi tangki bensin mobilnya.”
Sepanjang minggu lalu, kerumunan orang yang membawa uang tunai terus berbondong-bondong ke dealer untuk mencari kendaraan listrik bekas karena kekhawatiran akan melonjaknya harga solar.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran, yang dimulai pada 28 Februari, telah mengganggu pasokan minyak dan gas global dan menimbulkan kekhawatiran akan melonjaknya harga bahan bakar.
Isu-isu yang berdampak luas ini bertindak sebagai katalis, mendorong transformasi jangka panjang yang telah berlangsung.
Para pengamat percaya bahwa tahun ini menandai titik balik bagi adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara, karena penjualan tidak lagi hanya didorong oleh paket stimulus atau diskonpemerintah, tetapi telah menghasilkan momentumnya sendiri.
Kendaraan listrik modern tidak hanya lebih ramping, dilengkapi dengan fitur yang lebih canggih dan interior yang lebih mewah, tetapi yang terpenting, harganya lebih murah daripada kendaraan bertenaga bensin yang sebanding.