
loading…
Pernah bernilai Rp198 triliun, kini cuma Rp3,38 triliun. GoPro mengaku ragu bisa bertahan setahun lagi. Foto: GoPro
Pengakuan itu bukan main-main. Tertulis resmi. Dalam dokumen 8-K yang diserahkan ke otoritas bursa Amerika (SEC). Tanggal 1 Juni 2026.
Auditornya, PricewaterhouseCoopers (PwC), memberi peringatan keras: ada “keraguan substansial atas kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usaha”.
PwC sudah mengaudit GoPro sejak 2011. Jadi mereka tahu betul kondisinya.
Alasannya: rugi operasi terus-menerus. Arus kas negatif. Dan utang yang jatuh tempo dalam setahun.
GoPro rugi bersih USD93,5 juta — sekitar Rp1,68 triliun — sepanjang 2025. Tahun sebelumnya lebih parah: rugi USD432,3 juta, atau sekitar Rp7,78 triliun, di 2024.
Penjualan turun. Lalu ada beban baru: harga komponen memori naik 80 sampai 110 persen. Pasokannya pun berkurang — imbas krisis chip akibat ledakan AI. April dan Mei 2026 disebut “makin lesu”.
Pasar langsung bereaksi. Saham GoPro (NASDAQ: GPRO) jatuh dari USD1,26 (sekitar Rp22.680) pada Jumat ke sekitar USD1,10 (Rp19.800) di Senin. Selasa pagi di kisaran USD1,11 (Rp19.980).
Ini saham receh. Penny stock. Padahal dulu lain ceritanya.