
loading…
Menurut Frew, ajang seperti Piala Dunia tidak pernah sepenuhnya netral dari kepentingan politik. Ia menegaskan bahwa setiap negara yang menjadi tuan rumah memperoleh legitimasi global melalui turnamen tersebut.
“Piala Dunia bukan hanya kumpulan pertandingan. Ia adalah panggung global yang memberi pengakuan dan status. Ketika sebuah negara menjadi tuan rumah, dunia pada dasarnya menyatakan bahwa negara itu layak dirayakan,” ujar Frew dalam pandangannya yang dipublikasi jurnal kebijakan publik, Johnmenadue, pekan ini.
Frew menilai konteks politik Amerika Serikat menjelang 2026 membuat isu ini sulit diabaikan. Ia menyoroti kebijakan imigrasi yang keras, meningkatnya nasionalisme politik, serta kritik dari sejumlah kelompok masyarakat sipil internasional terhadap arah kebijakan Washington.
“Pertanyaannya bukan apakah olahraga itu politis. Olahraga internasional memang selalu berada dalam lanskap kekuasaan. Pertanyaannya adalah apakah Australia mau mengakui makna politik dari keikutsertaannya,” katanya.
Sorotan terhadap FIFA
Selain faktor tuan rumah, Frew juga mengkritisi peran FIFA sebagai penyelenggara. Ia menyebut badan sepak bola dunia tersebut kerap mengklaim netralitas, namun rekam jejaknya dalam penentuan tuan rumah dan relasi dengan elite politik menimbulkan tanda tanya.