
loading…
Serangan Israel dan AS terhadap Iran di bulan Ramadan ini membuka ruang pertanyaan fundamental terhadap komitmen Washington untuk menghadirkan perdamaian global. Foto/Ilustrasi/X/@IsraelArmyStan
Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD), Ahmad Khoirul Umam menjelaskan, dalam perspektif Coercive Diplomacy, ketika kekuatan militer dijadikan instrumen utama geopolitik, norma multilateralisme dan hukum internasional tereduksi menjadi dekorasi simbolik belaka. Serangan terhadap Iran ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan, sekaligus menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui Board of Peace (BOP).
Baca juga: Putri, Menantu, dan Cucu Khamenei Juga Tewas Diserang AS-Israel
“Bagi negara-negara Islam yang relatif independen seperti Turki dan Indonesia, momentum ini menjadi ruang refleksi strategis untuk meninjau kembali kerja sama BOP terkait Gaza dan arsitektur diplomasi kawasan, kata Ahmad Khoirul Umam dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).