
loading…
Kemacetan panjang di pintu tol saat arus mudik menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar lonjakan jumlah kendaraan, melainkan hambatan struktural pada sistem transaksi di gerbang tol. FOTO/DOK.Sindonews
Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menilai sistem pembayaran berbasis tapping e-money menjadi titik krusial yang menurunkan kapasitas jalan secara signifikan. Dalam teori lalu lintas, gerbang tol merupakan “bottleneck” atau titik penyempitan kapasitas karena kendaraan harus melambat bahkan berhenti.
“Dengan waktu layanan per kendaraan sekitar 4–5 detik, ketika volume lalu lintas meningkat dua hingga tiga kali lipat saat mudik, akumulasi antrean menjadi tidak terhindarkan,” ujar Anton, Kamis (19/3/2026).
Ia menjelaskan, selisih waktu beberapa detik dalam kondisi arus puncak dapat berkembang menjadi antrean panjang yang meluber hingga ke lajur utama. Dampaknya, kepadatan tidak hanya terjadi di gerbang tol, tetapi juga merambat ke ruas jalan sebelumnya secara sistemik.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Anton menyebut perlu langkah jangka pendek melalui optimalisasi operasional. Di antaranya penambahan gardu tol, termasuk gardu satelit di titik krusial seperti Cikampek Utama dan Kalikangkung.
Selain itu, rekayasa lalu lintas seperti contraflow, pengaturan lajur, hingga kebijakan open barrier saat puncak arus dinilai efektif mengurai antrean. Penggunaan mobile reader serta pengelolaan distribusi kendaraan ke rest area juga penting untuk mencegah penumpukan di satu titik.
Namun secara struktural, solusi paling efektif adalah menghilangkan titik henti di jalan tol. “Inti masalahnya ada pada friction point di gerbang tol. Jika ini dihilangkan, arus lalu lintas bisa menjadi free flow,” kata Anton.