
loading…
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific. Foto/Istimewa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific
BAYANGKAN Anda diundang ke sebuah pesta besar di sebuah aula megah. Musik berdentum, lampu berkilauan, dan hidangan tertata rapi. Namun, saat hendak berdansa, Anda baru menyadari bahwa 90 persen luas lantai aula tersebut ternyata sudah dipesan secara pribadi oleh satu keluarga besar.
Anda dan ratusan tamu lainnya hanya diizinkan berdesakan di pojok ruangan yang sempit. Itulah gambaran satir yang sering dirasakan investor ritel ketika berhadapan dengan emiten yang memiliki status kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pengumuman terbaru mengenai identifikasi emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi ini bak petir di siang bolong bagi sebagian pelaku pasar, namun bagi yang lain, ia adalah oase transparansi yang sudah lama dinanti. Fenomena ini bukan sekadar urusan administrasi di papan pengumuman bursa. Secara substansial, ia menyentuh jantung persoalan likuiditas dan keadilan pasar.
Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa di pasar negara berkembang (emerging markets), konsentrasi kepemilikan yang terlampau pekat sering kali berbanding lurus dengan rendahnya volume perdagangan harian. Ketika satu pengendali menguasai porsi yang terlalu dominan, mekanisme pasar untuk membentuk harga yang wajar menjadi lumpuh. Harga saham tidak lagi mencerminkan kinerja fundamental, melainkan “syahwat” sang pengendali.
Dalam konteks ekonomi global tahun 2026 yang sedang didera ketidakpastian—dengan harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel dan tekanan nilai tukar Rupiah yang menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS—stabilitas pasar modal menjadi sangat krusial. Reuters melaporkan bahwa investor institusi global kini semakin selektif; mereka mencari pasar yang memiliki standar tata kelola (Good Corporate Governance) yang setara dengan bursa-bursa maju.