
loading…
Foto: Doc. Istimewa
Temuan tersebut disampaikan IHDC melalui hasil kajian ilmiah dan sintesis diskusi publik nasional bertajuk “Partisipasi Kesehatan sebagai Ideologi Kesehatan Bangsa”. Kajian ini menyoroti kesenjangan antara capaian administratif sistem kesehatan dengan realitas sosial di lapangan.
Untuk itulah, Indonesia Health Development Center (IHDC) menyampaikan hasil kajian ilmiah dan sintesis diskusi publik nasional bertajuk Partisipasi Kesehatan sebagai Ideologi Kesehatan Bangsa yang menyerukan 9 Pilar Solusi dan 5 Instrumen Penguatan Partisipasi Kesehatan Indonesia.
Adapun akar persoalan kesehatan Indonesia tidak semata terletak pada pembiayaan atau infrastruktur, melainkan pada lemahnya partisipasi kesehatan yang bermakna dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi sistem kesehatan.
Ketua Dewan Pembina IHDC Prof Nila F Moeloek dan Ketua tim kajian serta Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi sepakat mengungkapkan, Indonesia telah mencapai cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) lebih dari 95 persen, namun berbagai kajian independen menunjukkan capaian tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keadilan akses, kualitas layanan, dan kepercayaan publik.
“Ketimpangan pemanfaatan layanan kesehatan masih nyata, baik antarwilayah, gender, status sosial ekonomi, penyandang disabilitas, hingga kelompok penyakit tertentu,” ucap Nila F. Moeloek dalam sebuah diskusi di kawasan Patra Kuningan, kemarin.