
loading…
Memaksakan anak berpuasa tanpa mempertimbangkan kesiapan fisik ternyata dapat menimbulkan risiko kesehatan serius. Foto/Gulf News.
Menurutnya, anak yang belum siap berisiko mengalami hipoglikemia (gula darah rendah), dehidrasi, kelelahan berat, hingga gangguan konsentrasi dan imunitas.
“Jika asupan energi dan zat gizi tidak tercukupi secara konsisten, dalam jangka panjang bisa mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan kognitif,” jelasnya, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, tanda awal dehidrasi pada anak di antaranya bibir dan mulut kering, lemas, aktivitas menurun, hingga warna berwarna kuning pekat dan jumlah sedikit. Bahkan lebih parahnya, anak bisa mengalami pusing hebat, jantung berdebar cepat, dan kulit kering.
Jika gejala tersebut muncul sebelum waktu berbuka, maka ia menyarankan puasa segera dihentikan untuk mencegah komplikasi. Meski demikian, Ihda menekankan bahwa puasa tidak otomatis mengganggu tumbuh kembang selama kebutuhan energi, protein, mikronutrien, dan cairan tetap terpenuhi saat sahur dan berbuka.
Namun jika terjadi defisit energi berulang, asupan protein rendah, atau kekurangan zat besi dan mikronutrien penting, maka pertumbuhan linear, massa otot, hingga fungsi kognitif anak bisa terdampak. Karena itu ia menekankan pentingnya pendekatan bertahap.
Misalnya dengan memantau status gizi anak, jika perlu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Orang tua juga disarankan mempelajari edukasi nutrisi yang menjadi kunci agar anak dapat menjalani ibadah puasa tanpa mengorbankan kesehatannya.
(nnz)