
loading…
Lahir di Cirebon, 25 Oktober 2004, Nizar sempat menempuh pendidikan di salah satu SMP favorit di daerahnya, SMP Negeri 1 Palimanan. Foto/istimewa
“Aku putar otak gimana caranya bisa tetap sekolah,” kenang Nizar.
Harapan itu kemudian muncul ketika pamannya di Kalimantan menawari kesempatan sekolah gratis dengan syarat mengabdi di rumah seorang ustaz. Dari situlah, perjalanan hidupnya berubah.
Diketahui, sejak kelas dua SMP, Nizar menjalani hari-hari dengan belajar sambil bekerja. Ia pernah menjadi penjaga fotokopi, ikut berjualan ayam geprek, hingga membantu pekerjaan rumah tangga. Semua dijalani demi tetap bisa menimba ilmu.
Di balik semangatnya, ada sosok yang menjadi sumber kekuatan terbesar, yaitu sang ibu.
Baca Juga: Respons Tasya Farasya soal Kabar Gugat Cerai Ahmad Assegaf
“Aku tahu betul kerja keras beliau mencari nafkah untuk lima anaknya. Itu yang membuatku jadi pribadi yang tangguh dan dewasa,” ujarnya.