
loading…
Laboratorium LPPOM MUI kembali menegaskan peran strategisnya di panggung internasional. Foto/istimewa
Dalam kesempatan tersebut, General Manager LPPOM MUI Laboratory, Heryani, memaparkan materi berjudul “Towards Harmonized Halal Testing: A Proposal for AOAC SEA to Establish Dispute Resolution Guidelines for Laboratory Results.” Melalui presentasi ini, LPPOM mengajak para ahli di forum AOAC untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya standarisasi pengujian halal di level regional dan global, mengingat perkembangan teknologi analisis yang semakin pesat dan kompleksitas produk pangan yang terus meningkat.
“Inter-laboratory variability adalah hal yang nyata, sehingga dibutuhkan mekanisme ilmiah dan syariah yang selaras untuk memastikan keputusan halal yang adil dan kredibel,” jelas Heryani. Ia menambahkan bahwa LPPOM mendorong pembentukan Halal Testing Harmonization Working Group di bawah AOAC SEA section sebagai langkah awal menuju harmonisasi standar pengujian halal antar negara di Asia Tenggara dan dunia.
Topik yang diangkat LPPOM mendapat perhatian khusus karena menjadi bagian dari agenda utama konferensi yang juga membahas isu global seperti PFAS, mikotoksin, pestisida, dan keamanan pangan lintas batas. Isu-isu ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menjaga keamanan dan kualitas pangan dunia.
Melalui inisiatif tersebut, LPPOM membawa pengalaman Indonesia sebagai pionir sertifikasi halal di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Langkah ini sekaligus memperkuat misi AOAC untuk menjamin integritas data laboratorium dan kesetaraan hasil uji antarnegara dalam perdagangan internasional produk halal.