
loading…
Shell dan TotalEnergies menyatakan force majeure terhadap sejumlah pelanggan hilir yang menerima pasokan LNG dari Qatar. FOTO/Reuters
Deklarasi force majeure tersebut mengikuti keputusan QatarEnergy yang menghentikan produksi LNG di fasilitas Ras Laffan berkapasitas 77 juta ton per tahun pada 2 Maret 2026 setelah serangan drone Iran menargetkan infrastruktur energi di negara tersebut. “LNG Qatar tidak dapat digantikan,” ujar kepala riset energi di MST Marquee seperti dikutip Reuters, Kamis (12/3/2026).
Baca Juga: Rusia Pertimbangkan Setop Seluruh Pasokan Gas ke Uni Eropa
Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan serangan drone mengenai tangki air di pembangkit listrik di Kota Industri Mesaieed serta fasilitas energi milik QatarEnergy di Ras Laffan. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, perusahaan menghentikan seluruh produksi LNG dan secara resmi menyatakan force majeure pada 4 Maret.
Shell diketahui memiliki kemitraan ekuitas dengan QatarEnergy di fasilitas Ras Laffan yang merupakan pabrik LNG terbesar di dunia. Laporan Bloomberg menyebutkan Shell telah menyatakan force majeure terhadap sebagian kontrak dengan pelanggan di Asia, sementara Shell menolak memberikan komentar dan TotalEnergies belum menanggapi permintaan keterangan dari Reuters.