
loading…
Pemandangan dari drone menunjukkan kemacetan lalu lintas pada jam sibuk sore hari di kawasan bisnis Jakarta, Indonesia, pada 3 Februari 2026. FOTO/Reuters
“Pemerintah mengapresiasi asesmen Moody’s yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada posisi Baa2, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif,” tulis keterangan resmi Kementerian Keuangan, Kamis (5/2/2026).
Moody’s dalam pernyataannya pada 5 Februari 2026 menyebut penurunan outlook didorong oleh menurunnya prediktabilitas kebijakan yang berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan. Jika tren tersebut berlanjut, kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan Indonesia dinilai dapat tergerus.
Meski demikian, afirmasi peringkat Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang masih kuat. Moody’s menilai kekayaan sumber daya alam, struktur demografi yang mendukung, serta kebijakan fiskal dan moneter yang relatif pruden tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan stabilitas makroekonomi.
Lembaga pemeringkat tersebut juga menyoroti pembentukan sovereign wealth fund baru, Danantara, yang dinilai menimbulkan ketidakpastian terkait sumber pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasi. Dengan kewenangan atas aset BUMN lebih dari 900 miliar dolar AS atau sekitar 60 persen PDB nominal 2025, Danantara dinilai berpotensi menimbulkan kewajiban kontinjensi bagi negara jika tidak diimbangi koordinasi dan tata kelola yang kuat.
Baca Juga: Data BPS, Ekonomi Indonesia Sepanjang 2025 Tumbuh 5,11%