
loading…
Analis Ekonomi Politik Kusfiardi menyoroti tata kelola hingga lemahnya pasar modal di Indonesia. FOTO/dok.SindoNews
Analis Ekonomi Politik, Kusfiardi, menilai keputusan MSCI untuk menerapkan interim freeze terhadap penyesuaian indeks saham Indonesia berfungsi sebagai pemicu, tetapi bukan penyebab utama koreksi pasar.
“MSCI tidak menyoroti kejadian insidental. Yang disorot adalah isu-isu struktural yang berulang dan belum ditangani secara meyakinkan,” kata Kusfiardi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/1/2026).
Baca Juga: Profil Iman Rachman, Dirut BEI yang Mundur di Tengah Gejolak IHSG
Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti tiga masalah utama, yakni ketidakjelasan struktur kepemilikan, rendahnya free float efektif, dan indikasi perdagangan terkoordinasi yang merusak mekanisme pasar. Kebijakan sementara ini disertai sinyal potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market.
Kusfiardi menjelaskan bahwa isu-isu tersebut merupakan konsekuensi dari desain dan penegakan tata kelola yang permisif selama bertahun-tahun. Pasar dinilai mentoleransi emiten dengan free float rendah, kepemilikan terkonsentrasi, dan likuiditas semu, sementara pengawasan lambat dan sanksi tidak menimbulkan efek jera.
Pola sinyal negatif dari lembaga global terhadap Indonesia sebenarnya telah berulang. Sebelum keputusan MSCI ini, pada Maret 2025, Goldman Sachs menurunkan rating saham Indonesia dari overweight ke market weight. Morgan Stanley juga menurunkan peringkat serupa pada Februari 2025.